Pengalaman Paling Konyol Ketika Mondok di Pesantren

Ketika berbicara masalah pengalaman, maka selalu renyah dan tak pernah ada bosannya untuk selalu kita bahas. Setiap orang pasti mempunyai pengalaman dalam hidupnya.

Pengalaman orang yang satu dengan yang lainnya pasti berbeda-beda, namun dari segi rasa pasti sama, yakni ada senang dan susah.

Nah, sekarang saya ingin menceritakan mengenai pengalaman saya waktu mondok disalah satu  pesantren di Sumenep. Saya tidak perlu menyebut nama pesantrennya apa, karena takut nanti melanggar kode etik jurnalistik hehe.

Meskipun pengalaman ini tidak baik untuk kamu contoh, paling tidak nantinya kamu  bisa mengambil hikamah.

Selain itu supaya  kamu juga tau jika melakukan hal ini, maka kamu tidak akan  mendapatkan apa-apa kecuali hanya penyesalan dikemudian hari.

Oke seperti biasanya, setiap santri itu sudah pasti mempunyai karakter dan latar belakang yang berbeda-beda.

Oleh karena itu jangan heran walaupun setatusnya sebagai santri, tenyata banyak juga yang nakal dan sering melanggar aturan, termasuk saya sendiri. 😀

Setidaknya ada beberapa pengalaman yang sulit saya lupakan ketika saya masih mondok.

Saya mencoba untuk menulisnya kembali sebagai kenangan sekaligus pembelajaran agar hal konyol semacam ini tidak kamu (santri) lakukan lagi.

Berikut ini pengalaman saya waktu saya mondok di pesantren.

1. Di Gundul

Sumber Gambar : Pixabay

Hukuman dengan cara digundul biasanya diberikan kepada santri yang melanggar sebuah aturan yang telah disepakati bersama oleh pengurus pesanteran.

Biasanya peraturan-peraturan tersebut berupa pelanggaran telat berjamaah, bolos sekolah, keluar tanpa izin, pulang tanpa izin dan lain sebagainya.

Jika kamu pernah mondok pasti tau peraturan-peraturan yang ada di pondok, walaupun setiap pondok tentunya mempunyai aturan yang berbeda-beda.

Tapi saya kira tidak jauh berbeda sih, antara peraturan pondok yang satu dengan yang lainnya.

Oke, kita kembali ke pembahasan tadi.

Waktu itu saya melanggar salah satu peraturan pondok, yaitu keluar tanpa izin terlebih dahulu kepada pengurus.

Karena pada saat itu saya keluar pondok ada perlu, sangat mendesak soalnya, sehingga tidak sempat untuk minta izin. Alasan 😀

Ya, biar bagaimanapun saya akui bahwa saya salah.

Karena saya melanggar, maka al hasil hukuman gundul itu saya terima. Akhirnya saya di hukum gundul dan rasanya secara fisik memang tidak sakit, tapi secara perasaan sangat sakit. Ciee kayak diputusin segala…wkwkw..

Ya iyalah sakit. Coba kamu bayangkan saja kalau pas kamu yang digundul, apa tidak malu.?

Apalagi kalau ada santri putri lewat dan ngeliat kita, rasanya ingin ngumpet gitu dari saking malunya. Biasa kan laki-laki emang gitu, suka ingin tampil keren dan selalu caper (cari perhatian)

2. Cabut Kelas

Sumber Gambar : Pixels

Cabut kelas biasanya terjadi jika pas siswa atau santri malas untuk bertemu guru, tidak suka terhadap mata pelajaran, dan tidak mengerjakan PR.

Biasanya tempat yang sering menjadi idola ketika cabut kelas yaitu di kantin sekolah.

Waktu masa-masa jadi santri, saya sering cabut kelas. Lebih tepatnya bukan sering sih, cuman pernah gitu aja.

Biasanya saya cabut kelas waktu mata pelajaran bahasa arab. Ada beberapa faktor yang membuat saya tidak suka, Pertama saya tidak suka pada mata pelajarannya, selain itu saya juga tidak suka dengan gurunya.

Biasalah, setiap guru kan punya karakter dan cara yang berbeda-beda dalam mengajar muridnya. Ada yang suka guyon dan ada juga yang terlalu serius dan monoton.

Demikian juga dengan seorang murid, ada yang suka dengan guru yang kalem dan suka senyum.

Mungkin tak jarang juga ada murid yang suka dengan guru yang gaya mengajarnya serius. Serius yang saya maksud di sini, gak tampak ada senyum sama sekali dari sang guru tersebut.

Nah, kebetulan saya di sini termasuk santri yang paling tidak suka dengan guru yang terlalu serius dan monoton. Sudah mata pelajarnnya susah, guru yang mengajarkannya juga tidak bersahabat.

Akhirnya yang ada hanya bikin saya setres. Kalau udah gitu, mending cabut kelas aja.

3. Ghasab

Sumber Gambar : Pixels

Ghasab atau sering di baca gosob ialah meminjam sesuatu barang yang tanpa izin terlebih dahulu kepada pemilikya. Untuk masalah ghasab ini paling sering terjadi dan cendrung di sepelekan oleh para santri.

Padahal ini adalah suatu perbuatan yang tidak etis dan seharusnya tidak dibiasakan.

Biasanya yang sering di ghasab ialah sandal. Saya sering kesel jika pas waktu mau berangkat ke mesjid tiba-tiba sandal hilang. Entah di sembunyiin gunduruwo atau giman saya tidak tau.

Mungkin kamu juga ngalami hal ini.

Karena pada saat itu saya sudah dalam keadaan berwuduk, maka alhasil saya juga ghasab punya teman saya. Setelah itu saya  tak tau apakah orang yang saya ghosob sandalanya juga menggosob punya yang lain atau tidak.

Tapi yang jelas budaya ghasab itu sudah menjadi kebiasaan di pesantren dan bahkan mungkin di pesanteren lain juga sama.

4. Brantem

Sumber Gambar : Pixels

Tiada hari tanpa brantem, dan saya paling hoby brantem. Apalagi pas ada anak yang sok jagoan dan nantangin gitu, wah saya itu mah malah senang kalau ada yang seperti itu.

Biasa anak muda, emosinya masih tinggi dan sok jagoan. Tapi ujung-ujungnya biasanya ingin di puji. 😀

Pengalaman saya paling sering brantem sama teman satu kamar. Alasannya cukup simple, yaitu karena saya setiap hari sering berinteraksi dengan mereka.

Karena biasanya konflik yang rawan terjadi pada orang yang setiap hari berinteraksi dengan kita.

5. Love Leters / Surat-suratan

Sumber Gambar : Pixabay

Nah, kalau yang satu ini sangat sulit saya lupakan, soale romantis bangat bro. Kamu pasti ngalamin juga iya kan ?

Udah lah ngaku aja. Cerintanya waktu itu saya suka dengan seorang cewek, sedangkan posisi asrama saya dan dia itu jaraknya lumayan jauh.

Jadi sangat mustahil untuk bisa ngomong langsung.

Apalagi peraturan di pesantren sangat ketat. Setiap cewek dan cowok tidak boleh untuk berkhalwat ( ber dua-duan ). Jika ketahuan berkhalwat tanpa alasan yang logis maka bisa-bisa kamu di DO. Ih serem ya.

Karena saya terlanjur suka sama dia dan ingin mengungkapkan isi hati saya, istilah kerennya nembak. Maka saya cari cara.

Nah, setelah saya cari maka ketemulan caranya yaitu dengan surat.

Ya, saya nembak dia via surat bukan secara langsung dan juga bukan via HP. Kerena membawa HP di pesanteren juga sangat di larang dan masuk kategori pelanggaran berat.

Singkat cerita akhirnya surat tersebut saya titipkan ke teman dekat dia, supaya di kasi ke cewek yang saya sukai tersebut.

Selang beberapa hari akhirnya dia membalas surat dari saya. Tapi gak usah lah ya, kamu tahu inti dari surat itu karena bersifat pribadi soalnya.

Oh iya, main surat-suratan juga tidak kalah lho sama yang smsan via HP.

Kenapa saya bilang tidak kalah, kerena menurut saya atmosfernya itu sangat berbeda sekali. Apalagi pas nuggu surat datang, perasaan deg-degan bangat dan kasmaran menyilumuti jiwa.

Ah, pokonya gak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Mungkin kamu bisa tau kalau kamu ngalamin langsung.

6. Lapak Jemuran

Sumber Gambar : Pixels

Santri di tuntut untuk selalu bisa beradap tasi dengan lingkungan pesantren dan sekaligus mandiri dalam segala hal. Entah itu masak sendiri, nyuci baju sendiri, menjemur baju sendiri dan lain sebagainya.

Pokoknya serba sendiri. Nasibnya jadi jomblo 😀

Karena waktu di pesantren saya nyuci baju dan menjemur pakaian sendiri maka secara otomatis saya kecape’an.

Nah, sudah badan capek gitu, terus gak dapet lapak untuk menjemur pakaian. Akibatnya jadi kesel. iseng-iseng saya singkirkan tuh pakaian teman saya, supaya saya dapat lapak.

ini juga berlaku pada gantungan-gantungan baju. Pokoknya tak sikat semua, ora urus yang penting saya dapat tempat gitu aja.

Setelah selesai, saya balik ke kamar untuk ngerjakan tugas yang lain. Kira-kira udah 3 jaman saya pun balik lagi ketempat jemuran buat ngambil baju- baju yang dijemur tadi.

Namun apa yang terjadi, rupanya senjata makan tuan, Baju saya juga di singkirkan sama teman-teman yang lain.

Yang bikin kesel lagi, udah baju saya di singkirin dari tempat jemuran, eh naronya malah asal-asalan.

Akibatnya baju-baju saya banyak yang hilang tidak tau kemana.

Hmm, sepertinya hukum timbal balik berlaku. Siapa yang menanam kebaikan, ia akan memanen kebaikan dan sebaliknya, siapa yang menanam sebuah keburukan maka yang ia terima juga keburukan.

7. Menyontek Pada Saat Ujian

Sumber Gambar : Pixels

Menyontek pada saat ujian adalah pemandangan yang tak asing lagi bagi seorang pelajar atau siswa. Biasanya menyontek adalah jurus paling ampuh, ketika semua kemampuan dan teknik sudah mentok.

Namun menyontek juga menjadi kebiasaan siswa. Jadi ada siswa yang dia itu sengaja tidak mau berusaha untuk belajar dan berfikir.

Yang dia tahu hanya menyontek, tidak ada yang lain.

Untuk pengalaman menyontek sendiri saya temasuk kategori yang mentok, maksudanya jika saya sudah tak menemukan suatu  jawaban, maka solusi yang paling jitu yang saya lakukan ialah menyontek.

Biasanya saya sering nyontek ketika mata pelajaran yang bisa membuat saya setres seperti fisika, kimia dan matematika.

Paling sulit di lupakan terkait menyontek tadi yaitu ketika saya ketahuan oleh guru. Waktu itu saya menyontek mata pelajaran fisika dan ketahuan oleh guru akhirnya semua kerjaan saya dirobek.

Coba bayangkan jika seandainya itu terjadi sama kamu. Apa yang kamu rasakan.?

Udah capek capek ngerjakan eh, tau-tau di sobek begitu saja, gara-gara hanya nyontek satu soal. Tidak hanya itu, saya juga disuru keluar dan tidak bisa ikut ujian lagi. Kalau udah gitu, ya secara otomatis nilai saya untuk mata pelajaran fisika jelek.

Hmmmm…Rasanya sangat menyedihkan sekali bro. Miris.!

8. Main Playstation

Sumber Gambar : Pixels

Kegiatan seperti ngaji terus menerus di pesantren membuat santri merasa boring ( bosan). Sehingga mereka mencari alternatif untuk menghilangkannya dengan cara bermain playstesion, ke warnet dan lain sebagainya.

Jika kamu mondok terus ketahuan keluar asrama tanpa izin dan dengan tujuan main PS, biasanya pengurus akan menghukum kamu dengan cara digundul.

Pokoknya jika kamu melanggar aturan ini maka siap-siap untuk jadi tuyul dan bakyul hehe.

Nah, salah satu santri diantara santri yang lain yang melakukan hal nakal seperti itu ialah saya. Biasanya saya kalau jenuh pasti keluar asrama bersama teman-teman dan itu pun tidak izin.

Kenapa saya sengaja tidak izin ? Karena jika izin terlebih dahulu ke pengurus pasti di introgasi dan urusan makin panjang.

Pada suatu hari saya kluar untuk main PS bersama teman-teman yanga lain, kurang lebih 5 orang. Karena pulangnya terlalu larut malam akhirnya terpakasa lewat pintu depan, karena pintu blakang pondok sudah di tutup.

Tiba-tiba entah kenapa ke esokan harinya kita berlima di panggil oleh pak kyai dan kami pun kenak hukuman.

Yang saya heran, kenapa pak kyai bisa tau kalau saya dan teman-teman main playstation dan pulang larut malam.

Mungkin ada santri yang bilang. Tapi perasaan gak ada satupun santri yang tau dan melihat saya dan teman keluar untuk main playstation. Kejadian itu sampai sekarang masi menjadi teka teki yang sulit saya pecahkan.

9. Membawa HP

Sumber Gambar : Pixabay

Saya dulu termasuk santri ya, bisa di bilang nakal lah.  Saat itu saya membawa HP kesayangan saya ke pasantren. HP yang saya bawa Nokia N 70, dan kebetulan waktu itu lagi buming bumingnya.

Kalau di tanya tujuannya bawa HP apa ?

Ya gak ada, cuman ingin bawa gitu aja. Namanya juga anak nakal, pasti selalu buat-buat masalah.

Nah, pas selang beberapa hari, ustad tiba-tiba menyuruh semua santri untuk kumpul di masjid dan saya bingung, kok tumben malam-malam waktunya orang tidur ngumpulin semua santri ke masjid.

Tiba-tiba ada salah satu usatad minta kunci kamar ke semua satri.

Nah, waktu itu saya baru sadar kalau ada razia HP. Pokoknya saat itu semua Almari santri termasuk punya saya di gleda dan HP saya kenak kenak razia.

Setelah selasai razia, saya lihat ustad keluar dari asrama dengan membawa kresek putih besar dan ternyata itu HP nya para santri yang kenak razia.

Ustad yang bawa kresek berisi HP itu langsung menuju ke masjid, dimana para santri di kumpullkan, lalu tiba-tiba menghancurkannya didepan para santri. Salah satu HP yang di hancurkan punya saya.

Akhirnya HP saya hancur gara-gara melangar aturan pondok. Apa boleh buat, itu semua karena kesalahan saya dan sebelumnya ustad juga pernah memperingati jika ketahuan bawa HP akan di hancurkan saat itu juga.

itulah pengalaman konyol yang seharusnya tidak saya lakukan selama saya menjadi santri di salah satu pondok di Sumenep. Dan sekarang saya menyadari akan kesahalan dan ketidak seriusan saya dalam menuntut ilmu.

Pada akhirnya, penyesalan lah yang saya dapat selama ini.

Lewat tulisan ini saya hanya bisa berharap kepada santri agar supaya benar-benar serius dalam mengenyam ilmu di sebuah pesantren. Taatilah semua apa yang menjadi aturan-aturan yang telah di dibuat dan sepakati.

Siapa tau dengan kamu menaati aturan-aturan dan tidak melanggarnya akan menjadi wasilah dapatnya barokah yang akan membuat hidupmu menjadi lebih baik.

Bagi kamu yang sudah terlajur masuk ke dalam lubangan hitam ini dan berniat untuk hijrah, maka itu sangat bagus.

mungkin dalam benak kamu muncul pertanyaan, aku harus bagaimana, ada sulusi gak..?

Jika kamu benar-benar bertekad ingin hijarah menjadi seorang murid atau santri yang baik, maka hal yang harus kamu lakukan ialah tata niat.

Maksudnya ialah kamu harus benar-benar niat dalam hati untuk mencari ilmu, tanpa paksaan dan tekanan dari siapapun. Dan juga bukan karena gengsi hanya karena ikut ikutan teman.

Setelah menata niat, hal selanjutnya yang perlu kamu lakukan ialah memilih dan memilah teman yang sekiranya membawa kamu kepada hal-hal yang positif, bukan sebaliknya.

Mungkin hanya itu tips yang dapat saya sharingkan kepadamu. Oh iya, Mungikin kamu juga punya pengalaman menarik yang bisa di share. Silahkan komen di bawah ya.

 

 

 

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: